Previous Next

Jul 09

BERBAGAI MANFAAT YANG BISA DIDAPATKAN DENGAN MENGIKUTI PELATIHAN BISNIS BAGI PARA PENGUSAHA

Agar dapat mengembangkan sebuah bisnis memang dibutuhkan adanya keterampilan khusus dan pengetahuan yang cukup dari para pelaku bisnis tersebut. Dengan adanya acara Seminar dan pelatihan dalam kewirausahaan yang lebih tepat akan dapat menjadi salah satu alternatif terbaik dalam meningkatkan soft dan hard skill dari para pelaku bisnis, tidak hanya bagi para pelaku bisnis menengah, kecil, dan mikro, namun juga bagi para pengusaha pemula dan juga para pengusaha yang ingin dapat mengembangkan bisnisnya untuk menjadi lebih besar lagi. Menurut Beach yang diterjemahkan oleh Sofyandi (2008) tujuan dan manfaat dari pelatihan akan dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Mempersingkat masa belajar agar dapat memenuhi standar kinerja yang telah ditentukan.

Dengan cara mengikuti pelatihan sebelum akan memulai bisnis, para pengusaha akan memiliki pengetahuan yang cukup untuk menjalankan bisnis mereka sehingga mereka akan dapat bekerja secara lebih optimal, tanpa harus memprediksi terlebih dahulu tentang langkah apa yang harus mereka lakukan dan akan dapat semakin memaksimalkan waktu yang telah ada.

2. Meningkatkan kinerja dari pekerjaan.

Pelatihan bisnis bertujuan untuk semakin meningkatkan kinerja dalam menghadapi berbagai pekerjaan-pekerjaan yang sedang dihadapi, sehingga akan menjadi lebih efektif dan semakin efisien, serta akan dapat menghasilkan inovasi-inovasi baru bagi bisnis mereka.

3. Pembentukan sikap Entrepreneur.

Setelah memperoleh pelatihan bisnis diharapkan akan dapat membentuk sikap dan tingkah laku para pengusaha dalam menjalin hubungan yang baik diantara sesame pengusaha, seorang pengusaha dengan patner bisnisnya, seorang pengusaha dengan para karyawannya, atau seorang pengusaha dengan para konsumennya.

4. Pelatihan bisnis akan sangat membantu dalam mencari solusi untuk memecahkan berbagai permasalahan operasional perusahaan sehari-hari yang seringkali terjadi, seperti mengurangi terjadinya kecelakaan kerja, mengurangi absen, mengurangi turn over karyawan, dan untuk meminimalkan indikasi masalah-masalah operasional lainnya.

5. Pelatihan bisnis tidak hanya memiliki tujuan jangka pendek saja, namun juga terhadap tujuan jangka panjang, yaitu untuk mempersiapkan para pengusaha agar dapat memperoleh keahlian dalam bidang tertentu yang memang dibutuhkan oleh perusahaan, seperti halnya dengan mengambil beberapa sertifikasi dalam bidang yang memang sangat dibutuhkannya.

6. Memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup untuk dapat menjalankan bisnis.

Manfaat terakhir dari adanya pelatihan bisnis adalah agar para pengusaha mempunyai kemampuan dan pengetahuan yang cukupsehingga para pengusaha akan memperoleh rasa aman dan akan dihargai, dan mampu menciptakan kepuasan dalam dirinya sebagai seorang entrepreneur.

Selain beberapa manfaat tersebut, terdapat juga keuntungan lain dari mengikuti suatu seminar dan pelatihan tentang bisnis (kewirausahaan), seperti:

• Akan menemukan patner dan mentor yang lebih tepat untuk usaha yang nanti akan atau sedang dijalankan.
• Hal utama yang perlu diperhatikan oleh para pengusaha sudah benar-benar memahami bisnis mereka masing-masing sehingga para pengusaha akan tahu dan mengerti benar dari seminar dan pelatihan semacam apa atau jenis apa yang harus mereka ikuti selanjutnya. ( Dari Berbagai sumber)

GD Star Rating
loading...

Jul 08

MODAL PENTING APA SAJA SELAIN UANG UNTUK MEMULAI SUATU BISNIS?

Saat ini banyak diantara orang-orang yang di usia mudanya sering menggunakan alasan (kemiskinannya) untuk menghapuskan impian besarnya untuk bisa menjadi seorang pengusaha yang sukses. Saat akan membicarakan tentang rencana dalam memulai usaha, hal pertama yang akan ditanyakan adalah “modalnya berapa?” karena sebagian besar orang banyak yang beranggapan bahwa modal selalu identik dengan uang. Padahal, sebenarnya modal (uang) hanya memiliki presentase 10% dari total semua modal yang dibutuhkan oleh seorang entrepreneur pemula dalam memulai bisnisnya sendiri.

Tidak adanya modal uang maupun seorang yang menginvestasikan uangnya, selalu menjadi alasan utama bagi semua orang untuk berhenti bermimpi menjadi pengusaha sukses. Sudah menjadi hal yang sangat biasa apabila ingin membuka sebuah bisnis hanya menjadi angan-angan belaka, tanpa adanya action apapun. Bahkan banyak pula diantara orang-orang yang merasa takut untuk berangan-angan memiliki bisnis sendiri, karena mereka merasa tidak memiliki cukup uang untuk dijadikan sebagai modal utama.

Ungkapan diatas sangat mewakili sebagian besar mental dari masyarakat kita yang harus mengurungkan niatnya untuk memulai bisnis sendiri, karena alasan utamanya adalah modal. Sebenarnya, jika mereka sedikit mengubah pola pikirnya, masih banyak hal yang bisa dijadikan sebagai modal untuk usaha selain hanya (uang) semata. Lalu apa saja kebutuhan modal untuk persiapan dalam memulai bisnis sendiri (tentunya adalah selain uang)?) Berikut ini adalah jawabannya :

  1. Modal Pengalaman yang Cukup.

Pengalaman yang Anda miliki, merupakan modal terpenting (selain uang) pada saat akan memulai bisnis sendiri. Dengan adalah modal pengalaman yang sudah cukup Anda peroleh, bisa saja digunakan sebagai titik awal bagi bisnis apa yang ingin Anda jalankan nantinya. Dengan adanya pengalaman yang cukup, akan sangat membantu dalam menciptakan peluang bisnis baru. Misalnya saja : pengalaman yang Anda milliki saat bekerja sebagai seorang karyawan restoran, menjadi kunci utama kesuksesan bagi Anda untuk kedepannya dalam menciptakan peluang usaha makanan sendiri.

  1. Knowledge (Pengetahuan) yang Memadai.

Walaupun sebenarnya Anda memiliki modal uang yang sangat banyak, namun jika tidak memiliki pengetahuan yang cukup. Maka sama halnya Anda dengan benda mati dan tidak memiliki jiwa, sehingga tidak akan pernah bisa bergerak kemanapun yang Anda inginkan jika tidak digerakan oleh orang lain. Oleh karena itu pengetahuan menjadi modal terpenting nomor dua setelah pengelaman (selain uang), sedangkan uang justru hanya menjadi modal untuk usaha nomor sekian puluh saja.

  1. Modal Skill (Keahlian/Bakat).

Modal berikutnya adalah berupa skill. Pengetahuan yang Anda miliki, akan sangat bermanfaat apabila didukung dengan skill atau keahlian yang Anda miliki. Peluang bisnis yang nanti akan dibangun menggunakan skill, jauh lebih cepat untuk berkembang jika dibandingkan dengan perusahaan yang sama sekali tidak didasari dengan adanya skill yang kuat.

  1. Keberanian dalam Mengambil Keputusan Memulai Bisnis.

Keberanian bukan berarti harus selalu nekat dalam mengambil resiko, namun keberanian yang dimaksudkan adalah keberanian dalam melawan rasa takut akan terjadinya kegagalan dan harus berani dalam mengelola segala resiko yang kemungkinan akan terjadi. Dengan cara memperhitungkan resiko bisnis yang kemungkinan akan muncul, sedini mungkin Anda akan dapat memperoleh cara dalam mengantisipasi terjadinya hal tersebut.

  1. Memiliki Konsep Bisnis.

Selain dengan bermodalkan pengalaman, pengetahuan, skill, dan keberanian, modal yang tidak kalah pentingnya adalah adanya konsep bisnis. Konsep bisnis merupakan arah dalam menjalankan perputaran roda bisnis. Jika Anda masih belum memiliki konsep bisnis yang jelas, maka tidak diragukan lagi bahwa bisnis Anda tidak akan mampu bertahan lama. Konsep dari bisnis ibaratnya seperti kompas bagi sebuah kapal yang sedang berlayar. Tanpa adanya kompas, kapal akan berlayar tak tentu arah yang jelas. Hanya tinggal menunggu waktu saja unutuk jatuh dihempaskan gelombang, dan akhirnya tumbang. Begitu pula dengan bisnis, tanpa konsep bisnis, maka hanya bisa menunggu waktu saja untuk hancur ditengah persaingan pasar.

  1. Networking (Membangun Jaringan).

Meskipun Anda tidak memiliki modal uang yang cukup, namun masih memiliki network atau jaringan relasi yang bagus. Itu sudah menjadi modal yang lebih menguntungkan bagi Anda, karena dengan adanya jaringan relasi yang terbangun dengan baik akan semakin mempermudah segala urusan Anda dalam memulai bisnis sendiri. Contohnya adalah saat Anda tidak memiliki modal uang yang cukup, namun Anda masih memiliki rekan yang bekerja di bank. Maka masalah permodalan, akan dapat dibantu dengan pengajuan pinjaman pada bank tempat rekan Anda bekerja tersebut.

  1. Spiritual Support (Dukungan Spiritual).

Dukungan dan semangat dari lingkungan sekitar, terutama keluarga, rekan dan lain sebagainya sudah menjadi modal yang tidak kalah bernilainya dengan yang diatas. Usahakan untuk selalu meningkatkan modal spiritual seperti percaya/yakin dan berdoa, untuk membangun semangat dan motivasi diri sendiri dalam memulai bisnis sampai mencapai kesuksesan yan sebenarnya.

  1. Inovasi dan Kreativitas.

Dibutuhkan adanya inovasi dan kreativitas dalam memulai sebuah bisnis. Untuk memutuskan ide bisnis apa yang akan digunakan dalam memulai bisnis baru, begitu pula dengan pengembangan bisnis yang membutuhkan adanya inovasi baru agar tidak sampai kalah dengan para pesaingnya. Kesuksesan dan kegagalan dari bisnis Anda sangat tergantung dari kedua faktor tersebut.

  1. Equity (Uang/Asset).

Nah, kebutuhan modal tentang uang atau asset sudah ada pada urutan terbelakang. Setelah semua modal diatas sudah Anda miliki, modal uang atau asset sebenarya juga dibutuhkan dalam memulai sebuah bisnis baru. Besarnya permodalan yang sudah Anda miliki, sangat mempengaruhi terhadap besar kecilnya bisnis yang nanti akan Anda bangun.

  1. Faktor Keberuntungan.

Sebenarnya ini bisa dikatakan (bukan) termasuk Modal, namun juga sangat menentukan sangat mempengaruhi kelangsungan hidup dari bisnis apabila datang pada saat yang tepat, jadi jalankan proses perputaran bisnis Anda dengan benar, semangat yang tak kenal menyerah, bekerja keras, inovasi, dan spiritual support (keyakinan dan doa yang kuat ). Maka keberuntungan tersebut akan segera berpihak kepada Anda.

Semoga beberapa petunjuk permodalan dalam memulai bisnis baru dapat menghilangkan rasa ketakutan Anda dan segera bangun dari mimpi buruk untuk memulai action dalam membangun bisnis baru. Semoga bisa bermanfaat dan salam sukses untuk kita semua.

 

GD Star Rating
loading...

Jun 24

SISTEM MANAJEMEN KINERJA BALANCED SCORECARD (STRATEGIC PERFORMANCE MANAGEMENT), APA MANFAATNYA BAGI PERUSAHAAN?

Sekitar 45% dari pemimpin sumber daya manusia (HR Leader) dari perusahaan-perusahaan global berpandangan bahwa penilaian kinerja tahunan sebenarnya tidak mampu secara akurat menilai kinerja karyawan. Lalu sebenarnya apa yang terjadi dan apanya yang salah?

Temuan dari survey tersebut adalah (terdapat sekitar kurang lebih dari 770 HR Leader yang menjadi responden) sungguh sangat mengejutkan. Masalahnya adalah, pandangan seperti ini muncul dari pimpinan SDM perusahaan-perusahaan terkemuka dari berbagai belahan dunia. Dan ternyata, keluhan tentang efektifitas penilaian kinerja maupun sistem manajemen kinerja karyawan banyak terjadi di mana-mana.

Sistem manajemen kinerja dari organisasi dan karyawan memang bukanlah sesuatu yang bisa dibangun dengan mudah, apalagi jika harus dioperasionalkan. Saat dulu, sistem manajemen kinerja masih kurang terukur dengan baik dan lebih cenderung untuk subyektif, maka komplain terhadap desain dan praktek-praktek sistem manajemen kinerja karyawan menjadi sangat lazim untuk digunakan.

Harapan akan munculnya sistem manajemen kinerja yang lebih baik sudah mulai ada sekitar tahun 1992, saat Prof. Robert Kaplan dari Harvard Business School dan koleganya Dr. David Norton, menyampaikan tentang konsep Balanced Scorecard pertama kali dari majalah Harvard Business Review (HBR) yang berjudul The Balanced Scorecard, Measures that Drive Performance (edisi Januari-Februari 1992). Tentang sistem manajemen kinerja yang banyak menggunakan ukuran kuantitatif atau kualitatif yang lebih terukur sehingga menjadi lebih obyektif.

Karena respon yang begitu besar, Kaplan dan Norton kemudian menuliskan 2 artikel lagi pada HBR dengan judul Putting the Balanced Scorecard to Work (September-Oktober 1993), dan Using the Balanced Scorecard as Strategic Management System (Januari-Februari 1996). Dan akhirnya, pada tahun 1996 itu juga, Kaplan dan Norton menerbitkan buku pertamanya dengan judul The Balanced Scorecard. Sejak peluncuran buku pertama tersebut, keduanya telah menulis sekitar 5 buku khusus tentang Balanced Scorecard dan yang terakhir berjudul The Execution Premium.

Pada awalnya, Balanced Scorecard hanya akan diperkenalkan untuk tujuan menjadi alat bantu dalam eksekusi strategi melalui pembentukan sistem manajemen kinerja perusahaan atau organisasi (strategic performance management). Namun, semakin lama, buku Balanced Scorecard juga menjadi sebuah sistem manajemen kinerja individu bagi pegawai yang lebih mengacu kepada strategi internal organisasi. Sistem manajemen kinerja pegawai ini memang sengaja dibangun agar dapat memastikan bahwa setiap unit kerja dan pegawai dapat bekerja secara lebih terfokus dalam mengimplementasikan strategi organisasinya.

Hal ini lebih dimungkinkan karena adanya teknik cascading. Menurut The Balanced Scorecard Institute, cascading Balanced Scorecard lah yang sebenarnya banyak sekali menterjemahkan scorecard (Key Performance Indicator/KPI) level corporat (yang lebih sering disebut dengan Tier 1) terhadap unit bisnis, unit pendukung atau juga termasuk departemen (Tier 2), dan terhadap kelompok kerja atau individu (Tier 3). Maksud dari cascading ini adalah untuk memastikan bahwa setiap unit dan pegawai yang memiliki fokus terhadap hasil akhir yang sama atau menjadi lebih konsisten. Keselarasan organisasi yang terlihat sangat jelas melalui strategi, melalui Peta Strategi (Strategy Map), KPI, dan inisiatif strategis (strategic initiative).

Namun, dalam upaya untuk penerapan teknik cascading maupun sistem manajemen kinerja Balanced Scorecard juga tidak mudah dan bukan berarti dapat bebas dari masalah. Pangkal utama dari masalahnya adalah dapat terletak tentang bagaimana cara dalam melakukan cascading. Banyak diantara konsultan Balanced Scorecard yang telah menyusun KPI karyawan dengan langsung menurunkan KPI corporat kepada level departemen atau unit kerja serta individual, baik secara penuh (full cascading) maupun secara parsial (partial cascading).

Secara umum, KPI corporat yang di-cascading berhubungan langsung dengan perspektif keuangan dan pelanggan, yang sejatinya adalah bersifat lagging indicator atau outcome indicator, KPI yang angka pencapaian targetnya baru bisa diperoleh setelah perusahaan mengadakan tutup buku pada periode waktu tersebut. Dan akibatnya, KPI dari setiap individu maupun unit kerja yang sebagian besar akan sama dengan KPI corporat. Cara cascading seperti inilah yang lebih mudah dan lebih cepat untuk dikerjakan, namun tidak begitu efektif apabila digunakan sebagai sistem manajemen kinerja.

Alasannya kenapa?

Karena cara penyusunan KPI dari unit kerja dan individu semacam ini hanya bagus untuk menjamin bahwa setiap unit maupun karyawan harus memiliki tanggungjawab yang sama dalam mewujudkan sasaran strategis nya (strategic objective). Namun, dari sinilah masalahnya mulai muncul. Saat sebuah organisasi terlalu banyak membuat KPI yang lebih bersifat tanggungjawab bersama, maka rasa untuk memiliki sebagai seorang pegawai atau unit kerja terhadap KPI tersebut sudah pasti sangat rendah. Setiap individu akan selalu bersembunyi di balik pencapaian target KPI tersebut. Apabila pencapaian KPI-nya bagus, maka semua akan senang. Dan akan lain halnya apabila target KPI corporat tersebut tidak mampu tercapai?

Setiap orang akan saling tunggu. Tidak akan banyak yang melakukan langkah proaktif dalam upaya untuk memastikan tercapainya target KPI korporat tersebut karena pihak perusahaan tidak akan bersedia untuk menjelaskan KPI yang menghubungkan mereka dengan KPI corporat tersebut. Hal ini sudah jelas sangat tidak tepat bagi upaya organisasi dalam mewujudkan target kinerjanya sendiri. Konsekuensi lain dari cara cascading seperti ini adalah, apabila kinerja perusahaan masih bagus, maka kinerja setiap pegawai sebagian besar juga akan bagus.

Padahal, di antara para pegawai yang berkinerja bagus tersebut, sebenarnya yang benar-benar berkinerja bagus tidaklah banyak. Begitu juga sebaliknya. Saat kinerja perusahaan semakin tidak bagus, maka sebagian besar pegawai juga akan berkinerja tidak bagus. Padahal, di antara pegawai yang berkinerja kurang bagus tersebut, masih tetap terdapat sejumlah pegawai yang kinerjanya sangat bagus. ( Dari Berbagai Sumber)

GD Star Rating
loading...
× Selamat datang di Groedu klinik Konsultasi