Previous Next

Sep 01

ARTIKEL BERSAMBUNG SALESMAN KAYA RAYA: ” TRIK MENGGUNAKAN KARTU HAND PHONE UNTUK MAKSIMALKAN PENJUALAN” (BAG-5)

TRIK GUNAKAN KARTU HP UNTUK TINGKATKAN PENJUALAN

TRIK GUNAKAN KARTU HP UNTUK TINGKATKAN PENJUALAN

Selain biaya operasional yang dikeluarkan untuk bensin, parkir dan makan, salesman ternyata dibebani dengan biaya untuk pulsa jika menghubungi customer. Memang ada perusahaan yang memberikan jatah pulsa pada salesmannya, tetapi tidak semua memperlakukan seperti itu. Di consumer good, nyaris salesman tidak mendapatkan pulsa kecuali seorang sales supervisor. Salesman di consumer good boleh-boleh saja menggunakan telepon di kantor, tetapi waktunya terbatas. Ia hanya bisa melakukan setiap pagi atau pulang dari kerja. Tetapi untuk kebutuhan menghubungi pelanggan ketika posisi di jalan, mau tidak mau pulsa pribadi harus dikuras.

Pulsa yang harus dikeluarkan oleh para penjual produk-produk secara free lance, seperti Gramedia Direct selling, Erlangga direct selling, produk MLM, serta produk-produk yang dipasarkan secara lepas lebih banyak lagi. Para penjual harus memodali biaya operasionalnya sendiri. Oleh sebab itu kebutuhan pulsa begitu mendesak selain bahan bakar, parkir atau biaya makan. Nah, salesman yang kaya tentunya tidak akan terlena dan terhambat dengan biaya yang harus dikeluarkan terhadap pulsa. Mereka memiliki cara-cara yang paling hemat dan paling canggih. Mereka menjadi survive dengan biaya ala kadarnya untuk mendapatkan penjualan maksimal. Tentunya menggunakan cara yang masuk akal. Di bawah ini akan dibahas bagaimana seorang salesman kaya bisa menghemat pulsanya dengan menggunakan berbagai trik yang dimilikinya.

Salesman tergantung alat komunikasi

Jujur saja salesman sangat tergantung dengan alat komunikasi. Alat komunikasi yang dibutuhkan salesman antara lain fax, telepon dan internet. Tanpa alat-alat tersebut mereka tidak bisa berkomunikasi dengan pelanggannya lebih cepat. Memang selama ini salesman perlu mengunjungi mereka, tetapi pada kasus tertentu mereka juga harus berhubungan dengan menggunakan berbagai sarana tersebut di atas. Misalnya saja proposal penawaran, brosur, daftar harga bisa dikirimkan lewat fax atau email. Sedangkan untuk keperluan yang menyangkut personal dan memerlukan penjelasan, salesman sangat tergantung dengan telepon. Fax bisa dilakukan di kantor dan kantor mau membiayai, begitu pula dengan internet, kantor menyediakan program speedy. Walau begitu salesman juga mengeluarkan uang jika berkomunikasi lewat internet di rumah. Selain itu salesman juga membutuhkan biaya ketika harus bertelepon di jalanan.

Kalau kebetulan kantor tidak menyediakan pulsa atau teleponnya untuk dipakai maka salesman akan menanggung biaya untuk pembelian pulsa. Mau tidak mau biaya ini harus dikeluarkan, sebab salesman juga sangat membutuhkan alat komunikasi telepon untuk menghubungi pelanggannya. Jadi salesman sangat tergantung dengan alat komunikasi seperti telepon. Kalau hal ini menjadi hambatan kerja, maka salesman sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Oleh sebab itu mau tidak mau mereka harus tetap mengeluarkan uangnya, tetapi mereka bisa mengurangi atau berhemat sedemikian rupa agar operasional tetap berjalan.

Selain kunjungan

Sebelum ada alat komunikasi yang canggih seperti sekarang ini, yaitu telepon genggam dan internet, salesman aktivitasnya lebih banyak berkunjung ke pelanggan. Setelah alat komunikasi sudah canggih, salesman tetap melakukan kunjungan tetapi untuk hal-hal tertentu mereka tidak akan berkunjung lagi, tetapi menggunakan alat komunikasi untuk menghemat waktu. Akhirnya alat komunikasi itu semakin lama semakin membantu salesman dalam pekerjaannya, sehingga sampai hari ini mau tidak mau salesman untuk menambah dan follow up pelanggan, ia akan menggunakan alat komunikasi agar effektif.

Sayang penggunaan alat komunikasi memiliki kendala, dan kendalanya bukan karena tidak ada sarananya tetapi biayanya kian hari kian melambung sehingga bagi salesman tertentu, seperti salesman free lance mereka akan terbebani. Berbeda dengan salesman yang ikut suatu kantor, semua sarana akan dibiayai meskipun kadang kala harus mengeluarkan kocek sendiri untuk berkomunikasi. Jadi sekarang ini salesman dituntut untuk hemat dan cerdik, bagaimana ia bisa menghemat biaya pulsanya agar tidak mengurangi incomenya. Semakin terkurangi incomenya berarti ia tidak bisa menyisihkan uangnya untuk ditabung, padahal untuk menjadi kaya seorang salesman harus dapat menabung dan kemudian menginvestasikan uangnya.

Hemat pulsa tapi…

Salesman yang kaya dapat menghemat biaya pulsanya tetapi bisa mendapatkan customer yang banyak. Ini yang sangat luar biasa bagi salesman yang kaya. Bagaimana ia menghemat pulsa tetapi bisa mendapatkan pelanggan sebanyak-banyaknya. Tentunya ada kiat tertentu yang dilakukan oleh salesman kaya. Pertama, ia akan mencatat semua keperluan yang akan dibicarakan. Ia cenderung menggunakan point of sales sebagai sarana untuk mempercepat penjelasannya. Point of sales adalah alat yang berisikan mengenai harga, term of payment (jangka waktu pembayaran), product knowledge dan delivery order. Kedua, tidak mengobrol di telepon dan berbicara yang penting-penting saja. Kalau membuat janji ia berbicara seperlunya, kalau menanyakan order jika hanya ketika sudah terjadi kesepakatan. Jadi berbicara di telepon hanya bersifat penegasan. Ketiga, ia mencari waktu yang tepat sehingga pembicaraan yang disampaikan mengena dan langsung pelanggan menegaskan kembali mengenai pesanan yang akan diterimanya. Keempat, ia berusaha pelanggan yang menghubungi, meskipun dalam hal ini ia tidak melakukan ”jump” tetapi ia menggunakan daya tarik produk maupun dirinya.

Point of sales sangat effektif jika digunakan ketika menelphon. Tapi sayangnya kadang kala untuk pelanggan yang berjenis visual menginginkan contoh produk secara nyata sehingga pembicaraan di telepon tidak effektif. Salesman yang kaya akan menangkap pesan bahwa terdapat titik terang jika calon pembeli sedang berminat. Meminta salesman untuk menunjukan contoh produknya berarti pintu yang mengarah kepada proses ”closing” sudah terbuka. Oleh sebab itu ketika sudah menjelaskan dengan cara menggunakan point of sales dan calon pembeli menginginkan contoh, salesman sudah mendapatkan angin kemenangan.

Mengobrol di telepon bukannya tidak boleh, tetapi ketika hanya digunakan sebagai salam pembuka maka hal ini adalah wajar. Cuma sayangnya banyak salesman yang ”kelewatan” dan lupa dengan tujuan ia menelphon. Dengan menggunakan point of sales, salesman akan terhindar dari hal itu. Boleh mengobrol tapi harus dibatasi agar tujuan menjual dapat memperoleh hasil.

Pelanggan tidak memiliki waktu mengganggur. Ia juga termasuk orang yang sibuk, oleh sebab itu carilah waktu-waktu ketika senggang sehingga anda bisa berbicara dengan baik dan pelanggan menangkapnya dengan baik pula. Pembicaraan dua arah tanpa gangguan akan mempercepat proses pembuatan keputusan konsumen. Oleh sebab itu agar pulsa juga tidak sia-sia lenyap dengan urusan yang tidak tepat, maka mulailah menelpon pelanggan ketika ia tidak sibuk.

Jangan melakukan ”jump” karena hal ini tidak sopan. Anjurannya adalah membiarkan konsumen menelpon anda. Gunakanlah pesona produk, misalnya mengatakan pada konsumen bahwa produknya nanti akan habis. Biasanya konsumen hanya memiliki dua pilihan, membeli atau tidak. Jika tidak membeli maka ia akan sengsara sebab mencari produk itu sangat sulit.  Kalau membeli berarti ia juga sedang memilihkan untuk dirinya sendiri. Ia akan senang dengan produk yang didapatnya. Inilah pesona dari produk yang ditawarkan. Kemudian adalah pesona pribadi penjual, yang mudah diingat dan mudah pula dihubungi. Penjual yang kaya akan meninggalkan kartu nama untuk konsumennya, dan ia menjadi teman yang baik bagi konsumennya.

Kalau langkah-langkah di atas sudah dilakukan dengan benar, maka pulsa akan jauh lebih hemat. Tujuan sales kaya adalah berhemat sedemikian rupa agar biaya operasional bisa digunakan untuk kebutuhan yang penting. Hemat bukan berarti pelit. Kalau pelit tidak mau menggunakan meskipun perlu, sedangkan hemat adalah tetap akan menggunakan biaya yang seharusnya, tetapi dengan kiat-kiat tertentu agar tidak boros.

Kiat hemat pulsa

Ini memang suatu cara bagaimana seorang salesman bisa menghemat pulsanya jika menggunakan telepon genggam. Sekarang ini meskipun para operator sellular sudah pada menurunkan harga pulsa, tetapi kebutuhan akan telepon masih tetap besar, sehingga mau tidak mau biaya telepon tetaplah tinggi. Untuk mengantisipasi hal ini ada kiat yang bisa dilakukan, yaitu carilah pulsa yang harganya murah tetapi pulsanya lebih besar dari harga pulsa itu sendiri. Kok bisa? Kan hanya ketika ada program saja bisa lakukan hal itu? Oh, ternyata tidak. Teman-teman di club sales ternyata memiliki kiat yang cukup cerdik dalam menghemat pulsanya.

Kalau selama ini mereka membawa beberapa telepon, maka telepon itu bisa dimanfaatkan sedemikian rupa. Para penjual biasanya memiliki dua jenis telepon, yakni yang satu GSM dan satunya lagi CDMA. Mereka kemudian memilih salah satu telepon yang kurang aktif dan diberdayakan sebagai hand set yang bisa digunakan telepon kemana-mana. Kan masih pakai pulsa juga? Iya, tapi ini lebih murah bila dibandingkan dengan mengisi pulsa lewat ATM, kartu refiil, atau lewat pulsa elektronik. Caranya bagaimana? Beli saja kartu perdana GSM atau CDMA yang harganya murah tetapi mendapatkan pulsa cukup besar sebagai bonusnya. Jadi telepon yang kurang aktif itu digunakan sebagai sarana untuk menggunakan pulsa perdana sekali pakai buang. Artinya setelah pulsa perdana itu habis lalu dibuang dan kemudian diisi lagi dengan kartu perdana yang belinya murah tetapi mendapatkan bonus pulsa. Kan lama-lama teleponnya rusak? Memang kelemahannya di sini, tetapi anda bisa berhati-hati untuk membuka tutup handphone anda. Penulis melihat kenyataan bahwa tidak sedikit orang yang melakukan hal ini untuk menghemat pulsanya. Dan hal itu bukan hanya salesman yang melakukan, mahasiswa dan semua orang yang ingin berhemat. Di bawah ini terdapat harga perdana semua operator sellular dan anda bisa membandingkan.

Nama Pulsa Perdana Harga Pulsa
As 4.500 10.000
Fren 9.000 35.000
XL 3.000 5.000
Simpati 8.500 10.000
IM 3 3.500 5.000
IM 3 5.000 10.000
Three 2.500 15.000
Axis 2.500 6.000
Mentari 3.500 5.000
Star one 6.500 10.000
Flexi 3.000 10.000
Esia 4.000 10.000
  • Dari berbagai Sumber

Coba kita ambil beberapa kartu perdana yang sangat menguntungkan jika dibeli hanya untuk reffil saja, seperti Fren beli perdana hanya 9 ribuan bisa mendapatkan pulsa 35 ribuan, three hanya 2,5 ribuan mendapatkan pulsa 15 ribuan, dan yang lain bisa anda lihat sendiri di tabel tersebut. Anda pasti tercengang ternyata kartu perdana bisa dimanfaatkan dalam rangka menghemat pulsa. Ini adalah suatu cara bagaimana anda menghemat pulsa, sehingga tetap bisa menghubungi konsumen tanpa kehilangan mereka.

Kemudian kalau anda mau ternyata pengisian pulsa sekarang ini sudah dibuat seperti bisnis jaringan. Anda mengisi pulsa di bisnis jaringan tertentu, dan merefrensikan sebanyak mungkin teman yang menggunakan handphone untuk membeli pulsa di perusahaan itu. Anda akan mendapatkan bonus berupa pulsa. Kalau ini dijalankan dengan serius yaitu memasarkan pulsa handphone ini, anda justru akan mendapatkan penghasilan tambahan. Mana yang anda suka dengan mengikuti bisnis jaringan pulsa atau membeli perdana. Itu semua terserah anda, yang penting pulsa sangat berhubungan dengan pelanggan. Jangan sampai perkara tidak ada pulsa pelanggan anda pada kabur, padahal income terbesar anda sebagai salesman tentunya bersumber dari pelanggan.

 

 

GD Star Rating
loading...

Agu 18

ARTIKEL BERSAMBUNG SALESMAN KAYA RAYA : ” CARA CERDIRK SALESMAN KAYA MEMENANGKAN CUSTOMER” (BAG -3)

“Balas budi pada customer adalah kewajiban penjual. Tanpa adanya customer seorang penjual tidak mungkin akan mendapatkan penghasilan tambahan.”

– Frans M. Royan –

CERDIK MENGELOLA CUSTOMER

CERDIK MENGELOLA CUSTOMER

Hubungan yang baik antara penjual dan pelanggan akan menimbulkan efek positif, seperti penjual dipercaya oleh pelanggan. Kalau pelanggan sudah mempercayai penjual seperti ini, maka sebaiknya penjual juga harus berhati-hati. Bahkan dapat mempergunakan kepercayaan pelanggan ini untuk sebuah aktivitas yang positif. Misalnya ketika seorang penjual dimintai tolong melihat stok produk, maka penjual harus realistis melihat stok produk itu. Jangan sampai memanipulasi data stok agar pelanggan membeli ulang produk perusahaan. Jika hal ini terjadi dan produk bisa keluar dari gudang tidaklah menjadi masalah. Tetapi jika yang terjadi adalah hal sebaliknya, produk menumpuk hingga mengganggu cash flow pelanggan, maka penjual sudah membuat pelanggan dalam kesulitan.

Pelanggan yang sudah mempercayai penjual tidak hanya akan menyerahkan urusan yang berhubungan dengan penjualan, tetapi ia mampu untuk memberikan order yang lebih besar jika benar-benar diberdayakan. Selain itu pelanggan bisa dimintai pertolongan jika dalam kondisi mendesak tiba-tiba volume penjualan tidak sesuai target yang diinginkan.  Penjual bisa meminta order darurat, sehingga penjualan yang tidak masuk target bisa masuk target. Penulis ketika menjadi wiraniaga suatu perusahaan langkah-langkah seperti ini seringkali dilakukan untuk mengejar volume penjualan agar mencapai target. Pelanggan-pelanggan yang baik dan merupakan grade A (membayar tidak pernah terlambat dan membeli maksimal) selalu menjadi tumpuan dalam meminta suatu pertolongan.

Hanya penjual yang menginginkan komisi yang bisa memberdayakan para pelanggannya untuk tujuan yang positif. Selebihnya akan menggorok leher pelanggan. Mungkin kita masih ingat dengan suatu kisah yang mengilustrasikan salesman yang bergaya hit & run. Ia menjual produk kepada konsumen tanpa memperdulikan hasil akhir dari penjualan. Kalau bisa bagaimana caranya memperdaya konsumen agar membeli produknya, setelah itu ia menghilang dan tidak bertanggung jawab terhadap produk yang sudah dijualnya. Ketika produk yang dibeli tidak bisa digunakan, konsumen kebingungan akan meminta pertolongan pada siapa. Kalau kondisinya seperti ini maka penjual akan kehilangan banyak pelanggannya. Serta semua ini bisa terjadi karena penjual memang tidak perduli. Memberdayakan pelanggan adalah upaya bagaimana hubungan antar manusia antara pelanggan dan penjual baik dan menimbulkan pula suatu keputusan yang sifatnya menang-menang. Ini adalah rahasia salesman yang kaya, dari pelanggan yang sangat percaya pada salesman akan mendapatkan order lebih banyak, dan mendapatkan penghasilan lebih banyak pula.

Memberdayakan customer sebagai supplier

Pelanggan yang baik akan “menjual” barang kepada kita. Artinya penjual akan diberikan barang sebagai umpan bagaimana melakukan usaha. Seorang sahabat menjadi kaya karena menggunakan kesempatan ini untuk membangun usahanya di rumah. Istrinya yang tidak bekerja diberikan aktivitas. Ia hanya bermodal estalse dan beberapa uang untuk cash flow dan menerima barang-barang yang di tawarkan pelanggan. Dari sini akan muncul pertimbangan yang bersifat win-win. Pelanggan menjual barang secara konsinyasi kepada istri penjual itu, berarti ia telah mengeluarkan barangnya dari gudang. Sementara itu penjual mendapatkan manfaat dari keuntungan yang diperolehnya ketika istrinya menjual barang-barang itu di rumah. Dari sini lahirlah penghasilan baru yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh penjual itu, jika istri di rumah ternyata bisa diberdayakan untuk menghasilkan uang. Pelanggan ternyata bisa dijadikan sebagai supplier usaha istri di rumah.

Pelanggan cenderung meminta tolong untuk menjual produk yang menumpuk di gudang. Pada suatu waktu, penulis tidak bisa menjual suatu produk kepada pelanggan yang disebabkan tidak ada tempat di gudang. Tahun 1985 produk rokok waktu itu sedang booming, pemerintah belum menganjurkan pabrik rokok untuk mencantumkan berbagai penyakit yang berbahaya jika merokok. Begitu pula di luar negeri tidak ada pula anjuran untuk memperlihatkan gambar orang sakit kanker mulut, anak lahir cacat karena ibunya merokok, serta gambar mengerikan akibat merokok pada bungkus rokoknya. Orang merokok seperti membakar uang. Penjualan perusahaan sangat tinggi pada para pedagang rokok, sebagai akibatnya dus bekas rokok itu menumpuk sebukit.

Penulis waktu itu hanya berpikir satu, jika bisa menyingkirkan dus bekas itu berarti produk perusahaan bisa terjual pada pemilik usaha itu. Oleh sebab itu ketika tiba di Surabaya penulis berupaya mencari pembeli agar bisa menampung dus rokok yang sangat menumpuk itu. Akhirnya penulis menemukan seorang pengepul yang sanggup membelinya. Berbekal harga yang diberikan oleh pembeli dus, penulis kemudian menyingkirkan dus itu dari gudang. Produk perusahaan bisa masuk gudang dan dus kami bawah ke Surabaya. Nah, dari aktivitas ini ternyata penulis sudah memberdayakan customer untuk menjual barangnya. Barangnya ternyata memiliki margin yang jumlahnya cukup lumayan jika ditabung. Ini adalah ilustrasi bagaimana memanfaatkan sumber daya yang ada di pelanggan agar produk kita bisa terjual, dan kita mendapatkan penghasilan tambahan.

Customer bukan hanya sebagai penyalur produk tetapi kadang kala ia juga sebagai seorang pabrikan. Ia memproduksi barang yang akan dijual kepada yang berminat, dan sebagai seorang penjual juga tidak luput dari bidikan para penyalur yang pabrikan seperti ini. Apa yang bisa dilakukan? Kalau kebetulan istri memiliki usaha di rumah maka customer dapat dijadikan sebagai supplier. Terpenting adalah membina hubungan agar antara penjual dan pembeli terjadi interaksi yang saling menguntungkan. Bolehkah hal ini dilakukan? Pada perusahaan tertentu seorang penjual dilarang melakukan, tetapi yang berhubungan dengan seorang istri, maka semua urusan yang akan mengurus adalah istri, sang penjual hanyalah merefrensikan saja agar customer bisa menjadi supplier usahanya istri di rumah.

Lakukan negosiasi dan mintalah kesepakatan prosentasenya dan kerjakan dengan tidak melibatkan diri sendiri. Kesempatan yang diberikan oleh customer sebaiknya dinegosiasikan prosentasenya sebelum anda kecewa. Terutama jika nanti yang meneruskan pembicaraan bisnis adalah istri, maka membuat kesepakatan di awal akan mempertahankan hubungan antara penjual dan pelanggan. Pengalaman sebelumnya jika terjadi ketidakcocokan komitmen dapat menyebabkan keretakan antara penjual dan pembeli.

Pada bagian ini merupakan pembimbingan bagaimana penjual memberdayakan customer sebagai supplier sebatas kemampuan pelanggan itu sendiri. Begitu pula pembelian oleh customer bukanlah suatu keharusan tetapi bersifat suka rela, sebab kalau suatu keharusan maka jika terjadi ketidakcocokan antara istri dan pelanggan dapat menimbulkan  perpecahan. Memberdayakan customer dijadikan supplier adalah upaya bagaimana salesman bisa menjadi kaya. Ini bukan rahasia umum dan banyak yang melakukan. Terutama bagi perusahaan yang tidak mempermasalahkan maka salesman bisa menggunakan kesempatan ini sebagai peluang usaha.

Upaya membuat cadangan

Memberdayakan customer sebagai supplier istri dirumah adalah suatu terobosan bagi para penjual. Sekarang ini bukan hanya di penjualan tetapi pekerjaan di bidang apa saja setiap orang terancam PHK, maka kita haruslah realistis dan berusaha memberdayakan istri di rumah untuk membuat usaha yang dapat menghasilan uang. Salesman kaya selalu mereka-reka untuk mendapatkan sumber penghasilan baru. Dengan memberdayakan istri di rumah memiliki pekerjaan, penjual dapat membeli produk-produk yang dipunyai pelanggan untuk dijual di rumah. Ini berlaku bagi para penjual yang tujuan menjualnya adalah pada para penyalur. Sedangkan pada customer pengguna langsung, penjual tidak memiliki kesempatan pertukaran.

Upaya yang dilakukan oleh penjual dalam memberdayakan istri dan memanfaatkan uluran tangan para pelanggan adalah upaya cadangan. Suatu ketika jika terjadi resiko yang tiba-tiba perusahaan bangkrut, maka nama penjual hanya tinggalah sejarah. Sekarang ini banyak sekali perusahaan berguguran meskipun produknya pernah berjaya. Misalnya produk-produk Olaga Food, belakangan tidak berproduksi karena bangkrut dan pabriknya dijual pada pihak lain. Kalau salesman menghadapi situasi seperti ini tanpa persiapan, maka penjual akan jatuh miskin. Penjual yang kaya selalu memanfaatkan situasi yang baik untuk membangun usahanya di rumah.

Atau istri tiba-tiba di-PHK, maka penjual yang kaya kehilangan sebagian penghasilannya. Namun ketika penjual sudah siap dan memiliki customer yang bisa diberdayakan, istri yang di PHK dapat diberi usaha dengan bantuan dari pelanggan yang merupakan supplier. Salesman yang kaya mengumpamakan perjalanan karier dan hidupnya seperti roda mobil yang jumlahnya 5. Roda yang 4 menopang perjalanannya, sedangkan roda yang satu menjadi cadangan dalam perjalanan. Ketika di antara roda yang jumlahnya 4 itu mengalami kerusakan, maka ban serep memiliki fungsi yang luar biasa. Selalu memikirkan cadangan adalah pola pikir seorang salesman yang kaya. Karenanya pelanggan yang baik akan menjadi sumber nafkah baru jika salesman memanfaatkannya. Konsep ban serep tidak hanya berlaku pada mobil tapi bagi semua bidang kehidupan.

Berlaku hukum take & give

Balas budi pada customer adalah kewajiban penjual. Tanpa adanya customer seorang penjual tidak mungkin akan mendapatkan penghasilan tambahan. Penghasilan tambahan yang sering disebut dengan komisi ini adalah pemasukan kedua setelah gaji yang besarnya naik turun tergantung dengan penjualan. Take & give adalah hukum alam yang mestinya dipikirkan oleh seorang penjual. Jika salesman menjual pada penyalur berarti penyalur mengharapkan seorang penjual bisa membantu mengeluarkan produknya dari gudang. Sementara itu bagi konsumen pengguna langsung mengharapkan seorang penjual memperhatikan purna jual. Ini adalah bentuk take & give. Konsumen membeli produk dan mengharap penjual menolong untuk penyaluran produk. Serta konsumen langsung mengharap setelah transaksi pejualan perduli dengan produk yang rusak. Paling tidak penjual juga harus memikirkan service centre bagi produknya.

Ketika Majic Com pertama kali keluar, Yong Ma yang merupakan produk import dari Cina ini tidak perduli dengan layanan purna jualnya. Setelah banyak sekali komplain, maka ia segera membuka sevice centre untuk menangani kondisi purna jual. Misalnya Majic com-nya tidak panas dan membuat nasi berwarna kuning atau berkerak. Yong Ma segera memberikan solusi. Konsumen akhirnya tidak takut membeli produk dengan merek asing tersebut. Begitu pula yang terjadi dengan motor dari Cina, orang kapok membeli sepeda motor tersebut karena tidak ada pusat service yang melayani jenis motor itu. Motor itu mengikuti bengkel umum yang tidak bisa dijamin 100% mutu pekerjaannya. Sekarang ini sedikit demi sedikit motor dari negeri tirai bambu ini sudah mulai menghilang.

Salesman yang kaya akan teringat pada ”take & give”, jika pelanggan membeli produk anda, maka ia harus mengembalikannya. Pengembalian itu sebagai cara menjalankan produk customer, atau menjualkan barang pelanggan sebagai cara untuk membarter apa yang pernah diberikan kepada penjual. Kalau penjual bisa menjual maka ia dituntut untuk bisa menjualkan produk para penyalur itu. Kondisi ini tidaklah general, hanya sebagian kecil yang memiliki moral seperti ini. Sedangkan yang lain acuh tak acuh saja terhadap penjual yang merupakan partner bahkan supplier bagi produk-produknya yang selama ini dijual di tempat usaha mereka.

Mengingat hal-hal yang baik yang dilakukan pelanggan, membuat kita akan mendapatkan yang baik-baik pula terutama terhadap keuangan kita. Ini adalah rahasia yang tidak bisa disembunyikan oleh seorang salesman yang kaya. Pengalaman membuktikan bahwa salesman banyak dibantu oleh pelanggan, jika penjual mau mengerti pada pelanggan. Apalagi seorang salesman ternyata memiliki tujuan akhir adalah menjadi seorang entrepreneur.

Memberdayakan pelanggan sebagai sumber uang

Customer bisa menjadi sumber uang jika kita mau melakukan. Pasalnya tidak semua perusahaan mengijinkan salesman melakukan pekerjaan ganda. Salah satu jalan adalah mengalihkan pengetahuan kita kepada istri dan mengajari mereka untuk menjalankan produk-produk milik customer. Konsep ini memang aneh sebab pelanggan tidak lagi menjadi sasaran penjualan tetapi telah menjadi sasaran untuk meminta bantuan.

Bahkan ia akan memberikan kredit kepada kita agar bisa menjalankan produk-produk pabrikannya. Wow, ini sungguh luar biasa sebab penjual tidak hanya menjual produk kepada konsumen langsung tetapi juga kepada produsen. Bagi penjual yang bergerak dalam bidang penjualan B to B, maka kondisi ini bisa memungkinkan jika pelanggan memproduksi aneka barang. Ini adalah peluang salesman yang kaya dalam menambah kekayaannya. Selain ia mendapatkan komisi, ia juga bisa memberdayakan istrinya di rumah untuk mendapatkan penghasilan.

Kalau akhirnya kita menginginkan customer menjadi sumber uang bagi kita, maka mengelola produk milik customer bisa menjadi peluang mendapatkan uang lebih banyak. Hal ini tentu saja adanya alasan bahwa seorang penjual telah memiliki pelanggan yang jumlahnya banyak dan tersebar di mana-mana. Jika perusahaan tidak mengijinkan pekerjaan ganda pada karyawan maka solusinya adalah mengerjakannya di hari libur. Ada perusahaan yang memiliki jam kerja hanya 5 hari saja, sehingga hari sabtu dan minggu bisa digunakan untuk melakukan penjualan. Semua ini tergantung kita, apakah kita mau atau tidak. Salesman kaya biasanya menggunakan peluang seperti ini untuk mendapatkan penghasilan lebih banyak.

 

GD Star Rating
loading...
Selamat datang di Groedu klinik konsultasi
Send via WhatsApp
× Selamat datang di Groedu klinik Konsultasi